Jumat, 18 April 2014

Mitra Bisnisku Yang Nakal

Saya baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan melilitkan sehelai handuk seperti biasanya. Karena kamar mandi berada di dalam kamar utama, saya tidak terlalu menghiraukan penampilan saya dari kamar mandi, bahkan biasanya keluar dari kamar mandi tanpa memakai apa-apa.

Dan saya langsung menuju meja rias untuk berias karena pagi ini saya harus menghadiri rapat perusahaan untuk mengadakan kontrak kerja dengan mitra bisinis saya.

Saya sebagai salah satu direktur dari perusahaan suami, saya harus hadir dan seharusnya suami pun yang menjabat sebagai Direktur utama harus hadir, tapi karena suami baru pulang dari dinas di luar negeri selama sebulan untuk mengadakan negosiasi dengan mitra bisinisnya yang di luar negeri dan masih terlalu capai katanya dan memang kontrak akan ditanda tangani oleh saya saja.

Ternyata di sudah bangun sementara saya sedang mandi tadi, dan sekarang masih di tempat tidur sambil memainkan remote control tv untuk melihat berita hari ini.

Seperti biasanya, didepan meja rias saya mulai berias.

Saya melepas handuk yang melilit di badan saya dan mulai memberi body lotion ke seluruh badan. Mulai dari kaki dan terus ke paha dan sampai selangkangan, terus ke atas.

Dibagian dada sedikit agak lama memberikan lotion nya terutama dibagian payudara saya yang berukuran 36B ini. Sedikit saya tekan dengan kedua tangan saya. Saya sedikit merasa suatu kenikmatan dan memang terlihat dengan mulai mengeras nya puting saya. Mungkin memang sedang masa subur dan lagi sudah lama saya tidak berhubungan dengan suami karena di tinggal dinas. Dari kaca saya mengintip, sepertinya suami sedang memperhatikan saya berias. Suami memberi oleh-oleh untuk saya tadi malam begitu sampai. BH buatan salah satu product dari inggris yang lucu dan sexy.

BH yang hanya menyanggah payudara dari bawah ini hampir tidak memiliki cup atau lebih dikenal dengan sebutan quarter bra, sudah jelas puting saya tidak tertutup oleh BH nya tapi tetap menjaga bentuk payudara.

Saya mulai memakai stocking terlebih dahulu, yang hanya menutupi kaki saya sampai ke pangkal paha, dan terus dilanjutkan dengan melilitkan garter ke pinggang saya dan tidak lupa menjepit stocking saya ke tali garter. Karena suami sudah bangun saya memanggilnya, "mas tolong dong ke sini ikatkan tali BH ini".

Suami yang tidur dengan mengenakan T shirt dan celana dalamnya saja bangun dari tempat tidur dan menuju ke meja rias untuk membantu saya.

"mas bagus ini BH nya, enak dipakai sepertinya...sexy lagi". Sambil tersenyum dia membantu memasangkannya dari belakang. Sambil tetap menghadap kaca saya menanyakannya "pinter juga milihnya mas, gimana pas tidak kelihatannya".

Dari belakang saya, suami mengulurkan tangannya dan memegang bagian depan BH yg dia berikan itu. Sambil memeriksa bagian depan BH, dengan nakalnya tangannya menyentuh dan menekan payudara saya yang tidak tertutup oleh BH ini.

Saya sedikit mendesah, "ah....mas nakal nih tangannya....", sambil tetap meremas kedua payudara saya dia menjawab "kenapa memangnya tangan saya...", dia mulai menjepit ke dua puting saya dengan jari telunjuk dan jari manisnya, sambil sedikit menariknya dengan perlahan. "Enak ya rasanya...sudah lama kan tidak saya pijit".


"Ah mas menggoda saja orang mau kerja". Kedua puting dengan cepatnya mengeras, terasa sakit bercampur nikmat. "Ah....ah....enak sekali rasanya", saya segera ingin berbalik menghadap dia rasanya, tapi dia menahannya, tangan kanan saya mulai melilit kan ke tengkuk nya dari depan dan menngelus rambutnya yang berombak. Sementara itu tangannya tetap meremas payudara saya. Oh begitu nikmatnya, saya betul-betul terangsang. Sementara itu tangan kanannya mulai bergerak menuju bawah dengan perlahan dan sampai ke bawah puser. Saya belum mengenakan celana dalam.

Dia mulai mengelus rambut bawah saya yang tidak banyak ini.

"Aduh kamu sudah banjir sepertinya.....", memang saya merasa bagian bawah saya sudah mulai lembab, dan dia terus mengelus dengan lembutnya.

Mendadak saya merintih agak keras "ah...ah...!!" ketika dia memainkan bibir bawah saya., tidak kuat lagi saya berdiri tegak, dengan sedikit membungkuk, kedua tangan saya memegang pinggir meja rias untuk bertahan. Tangan kanannya bergerak lebih jauh lagi.

Saya merasakan cairan kental dan licin keluar membasahi bibir bawah.

Seperti terpeleset, jari tengah tangan kanannya memasuki tubuh saya dan menggerak gerakannya di dalam vagina saya "ah.... ah... aduh mas...ah... saya tidak tahan.....enak sekali...". Saya sudah tidak sabar lagi, tangan kiri saya menuju belakang dan memegang pinggulnya dan menariknya supaya lebih mendekat dengan saya, dan segera menyelinap ke dalam celana dalamnya, saya mulai memegang penisnya yg sudah membesar dan keras itu, dan dengan berirama saya gerakkan. "ah...ah..." dia mulai merintih kecil.

Sementara itu dia menambah jari telunjuknya untuk masuk ke saya, "gimana....enak...rasanya" katanya. "Ah...mas enak sekali....terus gerakkan mas... jangan berhenti...satu lagi mas...ah...!!" saya minta jari manisnya juga.

Saya mulai menarik celana dalamya ke bawah, dan dengan bantuan tangan kirinya celana nya pun jatuh ke bawah.

Saya membungkuk lebih dalam lagi dan dia mulai merapatkan pinggulnya ke pantat saya, dan saya merasakan penisnya yang hangat itu menempel di bibir bawah saya. Jari tangan kanannya yang sudah basah dia keluarkan dari dalam saya dan kembali meremas remas payudara kanan saya sambil memainkan puting saya. Semetara itu tangan kirinya memegang pinggul saya untuk lebih mantap. Pinggulnya mulai dia gerakkan berirama.

Saya hanya bisa lihat dia dari kaca saja. Sesekali ujung penisnya menyentuh mulut vagina saya, seakan mau memasukinya, dia sengaja tidak memasukkannya dulu.

Membuat saya gregetan untuk bertahan, saya sudah terangsang sekali.

"Ayo mas...saya sudah tidak tahan lagi.....ah..ah..!!" saya memintanya.

"Mau apa kamu....bilang dong..." dengan nada menggoda.

Saya pegang ujung penisnya yang sedang menempel di mulut vagina, "ini....mau ini...cepat...ah..ah.. jangan buat penasaran....ah..!!" dan lebih membungkuk lagi saya, posisi saya sudah siap untuk dimasukinya.

Pelahan-lahan dia mulai memasukinya, dan saya merasakannya, sebuah benda yang hangat mulai masuk ke dalam saya, "ah...ah... ayo terus mas....saya mau semuanya..ah".

Dia hanya memasukkan setengah saja, membuat saya tambah penasaran, pinggulnya mulai bergerak ke depan dan belakang dengan berirama. "ah...terus..terus mas... saya mau semuanya...ah.. sampai mentok mas.. ah".

"ah..emm..enak tidak, mau semuanya ya..", dia bertanya, belum sampai saya jawab dia mulai mendorong penisnya jauh lebih ke dalam lagi, dan saya pun merintih dan merasakan sesuatu yang enak sekali. Pinggul nya terus bergerak berirama, dan mulai menambah cepat irama nya, tentu saja membuat saya tenggelam ke kenikmatan.

Tiba-tiba dia melepaskan penisnya dari dalam saya, dan menegakkan saya sambil memutarkan tubuh saya sehingga berhadapan dengan dia. Pinggang saya dia pegang dengan kedua tangannya dan mengangkat badan saya dan dia dudukan di meja rias, kemudian dia membentangkan kedua kaki saya. Dia kemudian mulai merapat dan memasukkan kembali penisnya ke dalam saya, "ah...ah..." saya pun merintih lebih keras karena nikmatnya. Dan dia mulai menggerakkan pinggulnya lagi. Kedua tangannya meremas-remas payudara saya dan juga memainkan puting saya dengan menjepit dengan jari telunjuk dan tengahnya.

Dia mulai mencium saya, dan saya langsung menyambutnya dengan membuka mulut saya sedikit, dan lidah dia mulai memasuki mulut saya dan saya sambut dengan lidah saya.

Kedua lidah saling bercengkrama dan membuat lebih nikmat.

Irama gerakan pinggulnya semangkin cepat, dan saya tahu dia mulai mendekati klimaks.

"Tunggu mas, saya mau sama-sama mas...ah..!!", saya ingin mencapai klimaks bersama-sama, dan saya lebih konsentrasi lagi sambil menjepit penis nya.

"Ah...mas.. ayo mas.. saya sudah mau keluar
mas...ah..sama-sama...mas..!!".

Dan seperti pistol meledak, dari penisnya keluar cairan panas yang terasa begitu panas dan kencang dalam tubuh saya, dan saya pun beberapa detik kemudian mencapai klimaks.

Irama gerakan pinggulnya mulai menurun perlahan-lahan , dan saya memeluk kepalanya dan saya ciumi kuping kirinya sambil berbisik "ah...nikmat sekali mas...sudah lama kita tidak begini", dan pinggulnya sudah berhenti bergerak, tapi penisnya masih tetap di dalam saya, dan dia mengecup bibir saya dengan mesranya. "Ah...", dia merintih sedikit karena penisnya yg masih didalam saya jepit.

Dia mulai mengeluarkan penisnya dari dalam saya, dan saya masih dalam posisi duduk di meja rias, saya merasakan cairan kental putih keluar dari dalam saya membasahi meja rias.

"Mitra kita akan tertarik dengan kecantikan kamu nanti", katanya dengan penuh arti.

Di luar mobil sudah menunggu saya, saya keluar dari rumah dan pamit.

Saya memakai onepice merah panjang, potongan di dada sedikit rendah sehingga kelihatan sedikit belahan dada saya dan sedikit menonjol kedua puting saya dari balik gaun merah ini, BH saya hanya menyangga buah dada saya dan puting saya tidak tertutup oleh BH sehingga sepintas seperti tidak memakainya.

Supir saya membukakan pintu belakang dan saya masuk, sebelum pintu di tutup saya menarik bagian rok saya yg masih sedikit menempel di bagian pintu karena kancing bagian rok saya yg ada di depan sengaja saya buka sampai pertengahan paha, supaya lebih mudah bergerak dan sedikit terlihat sexy dengan belahan di depan.

Supir sepertinya sedikit melirik ke paha saya ketika itu, tapi seperti sudah biasa dia terus menutup pintu.

"Jon tolong mampir ke hotel Hyatt dulu untuk jemput tamu, dan baru kita ke kantor".

Di lobby hotel tamu saya sudah menunggu, dia bersama wakilnya.

"Wah maaf pak Robert agak telat sedikit, tadi jalanan sedikit macet".

Saya berbohong, padahal jalan tidak macet, tentu saya tidak bisa bilang bahwa saya telat karena menikmati sex di pagi hari.

Bapak Robert ini sepertinya masih muda dan tampan, badannya tegap dan tinggi. Masih muda sudah menjadi president suatu perusahaan yang lumayan besar.

Di mobil saya duduk di sebelah kanan, kemudian pak Robert di tengah dan wakilnya di kanan. Sambil sedikit memiringkan badan masing-masing kami berbincang-bincang tentang kota Jakarta. Sambil berbincang-bincang, sesekali-kali dia mencuri pemandangan dengan melirik ke bagian dada saya yang belahan bajunya sedikit rendah ini. Saya tahu itu, tapi saya berpura-pura seperti tidak sadar dan juga saya tahu bahwa yang dia lihat adalah bagian yang menonjol dari balik baju saya di sekitar buah dada saya.

"Pak Robert sudah umur berapa putranya?" saya sengaja menanyakanya untuk memastikan sudah berkeluarga atau belum. Dia tersenyum dan "Saya belum berkeluarga bu", sambil tersenyum. "Kalau begitu bisa lebih santai dulu dong di Jakarta setelah kerjaan selesai" dengan nada memancing saya bertanya.

Tidak lama kemudian kami sudah sampai di kantor. Mobil berhenti dan supir membukakan pintu sebelah kiri. Wakil pak Robert turun dahulu dan kemudian dia, sambil bergeser saya juga menunggu untuk keluar, dan ketika saya memutarkan badan untuk mengambil tas saya yang ada di belakang kursi, belahan rok saya terbuka sampai pangkal belahan, tapi saya tidak sempat membenarkannya dan langsung ke luar. Di depan pintu pak Robert sudah menunggu saya untuk turun, dan dia pasti telah melihat pangkal paha saya dan bahkan mungkin telah lihat celana dalam saya yang hitam dan agak transparant itu.

Pintu lift di loby terbuka dan saya persilahkan Tamu saya masuk dahulu dan kemudian saya. Kantor saya ada di tingkat 30, di dalam lift tidak terlalu penuh, tapi di tingkat 3 banyak yang masuk sehingga kami mundur ke belakang. Karena penuhnya, saya terdorong sampai menyentuh pak Robert, "maaf pak Robert" saya minta maaf kepadanya.

Dalam lift saya merasakan tangan pak Robert yang menempel ke pantat saya, merasa tidak sopan, dia mengeser tangannya agar tidak menyentuh, tapi rupanya justru membuat posisinya semakin tidak enak. Bagian depannya langsung menempel ke bagian belakang saya. Saya merasa ada sesuatu yang keras menyentuh bagian belakang saya, penisnya mengeras rupanya. Belum sampai lebih jauh merasakannya lift terbuka dan kami harus keluar. Ruang rapat sudah siap dan saya persilahkan masuk, dan beberapa menit kemudian rapat dimulai. Ada dua hal kontrak yang kami bicarakan dan pada awal rencana kami akan menanda tangani kedua kontrak kerja, tapi setelah satu jam rapat berjalan ada satu hal yang harus dikonfirmasikan dan pak Robert minta ditunda sehari, akhirnya kami menandatangani satu kontrak kerja saja.

Untuk menjamu tamu, saya membuat appoitment untuk diner malam ini di hotel pak Robert jam 20 malam. Pak Robert dengan diantar oleh mobil saya kembali ke hotel.

Sore jam 16 saya bersiap-siap untuk pulang kerumah karena nanti malam ada diner dengan pak Robert. Ketika sampai di rumah ternyata ada pesan dari suami bahwa dia harus keluar kota dan baru kembali besok pagi.

Saya langsung menuju meja rias dan membuka baju untuk mandi. Setelah buka baju, saya duduk dahulu di kursi meja rias sambil membuka BH saya, dan sedikit istirahat dulu.

Saya merasakan kelembaban di celana dalam saya, dan merabanya dari atas celana, ternyata basah, naluri sex saya sedang tinggi. Dari selangkangan kaki, celana dalam saya geser sehingga tangan saya dapat menyentuh bibir bawah yang sudah basah ini, dengan halus saya mengelus-ngelusnya sambil membayangkan tadi pagi, tapi tiba-tiba imajinasi saya berubah seakan akan pak Robert yang muda dan ganteng itu sedang mencium dan menjilat vagina saya. Cairan yang hangat dan licin semangkin membasahi, dengan tidak sadar jari telunjuk saya sudah masuk ke dalam vagina dan terus saya gerakkan keluar masuk dari vagina saya, "ah..ah..a.h.." saya mulai merintih dengan nikmatnya. Seperti kurang puas dengan jari, saya membuka laci meja rias dan mengeluarkan mainan saya.

Mainan ini berbentuk penis ukuran orang eropa dan bisa bergerak-gerak dengan memakai baterai. Mula-mula ujungnya saya tempel di ujung mulut vagina saya, "ah..ah!!", denyut jantung mulai cepat dan saya mulai memasukkan nya perlahan-lahan sambil berimajinasi yang masuk itu penis pak Robert. Saya masukkan sampai habis, bukan main rasanya, seperti benar-benar melakukan sex, mainan ini bergerak terus di dalam badan saya. Saya mulai menggerakkan mainan perlahan dengan men keluar masukan ke vagina dengan berirama, seperti orang laki-laki sedang memasukan punyanya ke vagina wanita.

"ah...ah!!...ah ah ah..", irama gerakkan mulai cepat dan cepat, saya pun mulai tidak sadarkan diri, sementara tangan kanan menggerakkan mainan, tangan kiri saya mulai meremas payudara kanan saya dan sambil memainkan puting yg sudah dari tadi mengeras.

Selama lima menit, terus saya mainkan mainan ini dan irama tangan pun semangkin cepat, dan saya sudah mendekati kelimax. "ah..ah... keluar!!..ah..ah", tanpa saya atur pinggul saya bergerak menyentak dan mainan yg didalam saya jepit....

Cairan kental bening keluar banyak dari celah vagina yg masih dimasuki oleh mainan ini.

Kepala dan tangan, saya rebahkan di meja rias, sementara mainan penis ini masih bergerak di dalam vagina saya. Kurang lebih tiga menit kemudian saya mulai menarik maian yang masih bergerak dalam vagina saya, mainan sudah jelas basah dan licin oleh cairan saya.

Mainan saya bersihkan dengan tisue dan saya simpan kembali di laci, dan saya baru melepas celana dalam yg sudah basah ini dan melepas gartar, kedua stocking saya, dan menuju kamar mandi.

Saya pilih gaun biru gelap untuk diner malam ini. Setelah memakai minyak wangi ke seluruh badan, saya mulai mengenakan stocking hitam dari kaki kiri dan terus saya tarik sampai setengah paha dan diteruskan dengan yang kanan. Saya lebih senang stocking model seperti ini dari pada panty socking, lebih praktis apabila ingin ke kamar kecil. Gartarpun saya pilih yang hitam, dan saya jepit tali gartar ke ujung stocking yang ada di pertengahan paha. Saya pilih celana dalam hitam yang berbentuk sangat minim yang hanya pas-pasan menutupi bagian depannya, sedangkan bagian belakang hampir seperti tidak memakai celana dalam, hanya berupa garis yang menutupi belahan bagian belakang, sehingga dari luar baju tidak akan terlihat garis celana dalam. Gaun malam saya bagian bawahnya panjang sampai ke mata kaki dengan dua belahan di samping sampai dua puluh centimeter dari atas lutut. Bagian punggung terbuka, dan bagian depan gaun dari dada terus ke atas dan bersimpul di kuduk kepala, tentu tidak berlengan dan belahan dada nya sampai setinggi bawah payudara, gaun hanya pas menutupi bagian payudara saja.

Gaun seperti ini tidak bisa memakai BH yg umumnya, biasanya hanya berupa cup saja.

Tapi saya kurang enak memakai BH yg hanya cup saja. Malam ini payudara saya langsung di tutup oleh gaun saja, tidak memakai BH.

Setelah merapih kan gaun dengan melihat dari kaca setinggi badan kemudian saya memilih sepatu untuk malam ini. Saya pilih warna hitam bludru dan dengan hak yang tinggi.

6 komentar: