Jumat, 18 April 2014

Tetanggaku Yang Nakal

Sungguh Aku tidak menduga, kalau sepanjang Aku tinggal di gang kontrakan Pak Amir, Aku akan mendapatkan sesuatu pengalaman yang mengasikkan. Mulanya Aku pindah kesitu karena kontrakan itu tergolong baru, di pinggir sawah, dan walau pun di pinggir persawahan, tapi letaknya sangat bagus dan dekat dengan pusat kota. Waktu itu Aku memilih tempat paling ujung karena Kebetulan pemandangannya bagus serta dekat dengan tempat jemur pakaian. Di belakang kontrakan ada pabrik roti yang mungkin ini adalah kekurangan dari kontrakan itu, yaitu ada suara diesel untuk listrik pabrik itu.

Waktu masuk pertama, baru ada beberapa keluarga saja yang mengontrak. Di depan ada sekitar 15 bedeng dan di deretanku ada 16. Mulanya Aku tidak begitu memperhatikan tetangga-tetanggaku, karena Aku selalu pergi pagi dan pulang malam. Maklum Aku kerja di daerah Tangerang yang lalu lintasnya selalu macet. Tapi sejak pagi itu, Aku benar-benar dibuat kaget dan ketagihan.

Pagi itu Aku agak santai dan duduk di teras depan kamar, sambil menikmati pemandangan sawah. Saat itu Aku baru saja di PHK dan tengah asik melamun memikirkan kelangsungan masa depanku, sambil menunggu kabar dari beberapa lamaran kerja yang kulayangkan. Suasana sekitarku tampak sepi, maklum pagi hari menjelang siang begini kebanyakan tetanggaku sudah berangkat kerja. Yang ada paling istri-istri mereka, itu pun kalau tidak bekerja pula, dan anak-anak yang belum sekolah. Tiba-tiba kontrakan di depan kamarku terdengar pintunya terbuka, dan kulihat seorang wanita dengan hanya mengenakan handuk terlilit, keluar sambil membawa ember berisi cucian. Yang membuat Aku agak kaget, wanita itu cantik sekali, dengan kulit putih serta rambut panjangnya. Mungkin wanita itu juga terkejut karena tidak biasanya Aku duduk di situ pagi-pagi begini.

Wanita itu menuju samping kamar yaitu ke tempat menjemur pakaian. Otomatis Aku yang sedang memandang sawah jadi terhalang oleh pemandangan wanita yang sedang menjemur pakaian. Dan sekitar sepuluh menit ke depan Aku benar-benar menikmati tubuh wanita itu, yang seolah-olah cuek atau disengaja memamerkan tubuhnya.

Aku agak tergila nafsu saat wanita itu membungkuk, membelakangiku, dan sudah tentu bongkahan pantatnya tampak. "Sial", umpatku karena pemandangan itu hanya sekilas-sekilas, terhalang lembaran-lembaran pakaian yang tergantung. Tapi sempat kulihat garis pantatnya yang kehitam-hitaman. Dan yang lebih hot, saat cucian yang sudah dijemur habis. Wanita itu seperti sengaja, lalu membuang air di ember, sehingga seperti tertarik, handuk itu lepas lilitannya. Aku sempat melihat buah dadanya yang mulus dan masih tegak, serta serumpun bulu yang melingkari selangkangannya. Sekali lagi sialnya. Suasana tambah tak menguntungkan dengan makin kencangnya tiupan angin. Aku hanya diam saja ketika wanita itu lewat di depanku dan mengerling nakal lalu masuk ke dalam rumah kontrakannya.

Sore itu juga Aku meniatkan diri untuk mengecek apakah wanita di depan kamarku itu gadis atau bagaimana. Sekitar pukul 7, Aku mengintip dari gorden ketika kudengar suara motor. Kulihat seorang laki-laki serta dua orang anaknya turun dengan riang. Wanita itu keluar dan, sekali lagi cantik banget, mengenakan daster terusan sehingga tampak seolah berkibar. Sedikit kecewa Aku bergumam. Wah sudah punya suami, dan punya anak lagi.

Semenjak kejadian itu Aku jadi rajin nongkrong di depan rumah di saat pagi menjelang siang. Tapi seperti sudah tahu, wanita itu juga tidak sembarangan lagi memakai handuk. Kata ibu tetangga sebelah kamar, tumben Aku kok kelihatan. Yach sedang tidak banyak kerjaan, kubilang.

Seminggu Aku jadi pusing sendiri. Walau pun sering bertemu tapi ya... selalu pakai longdress atau rok yang panjang sehingga Aku hanya menelan ludah. Aku pun sudah tahu namanya. Aku memanggilnya Mbak Rani. Baru nikah dengan duda beranak dua. Wah berita gembira juga. Berarti masih enak, dalam hati Aku bergumam sambil memandang payudara wanita itu. Yang dilihat risih juga. Lalu ngeloyor ke anaknya yang sedang bermain di gang. Aku pun mulai akrab dengan anak-anak tirinya, dan karena sering ngobrol, Mbak Rani sudah cukup akrab pula denganku, hingga suatu saat...

Waktu itu Aku baru bangun tidur, kesiangan, dan sedang spanneng berat, sehingga tanpa terkontrol Aku melakukan hal yang fatal. Saat itu Aku mendengar suara Mbak Rani yang mungkin telah selesai menjemur pakaian dan sedang memberi makan anaknya. Aku yang sedang ngaceng berat, keluar dan duduk di sebelah Mbak Rani. Sambil lihat ke kiri ke kanan, kulihat hanya beberapa tetangga di ujung yang sedang duduk. Aku lalu mencoba mengajaknya ngobrol.

"Mbak... suaminya pulang malam terus ya?".
"... Ya begitulah... emang kenapa Ton?". Aku diam saja sambil melihat betis Mbak Rani yang mulus.
"Nggak... Mbak sudah lama nikah?".
"Eh nanya itu melulu, kenapa sih?", Mbak Rani memandangku heran. Aku yang sedang horni nekat mencoba mengelus tangan Mbak Rani. Mbak Rani bereaksi. Ditepisnya tanganku.
"Heh, entar kelihatan tetangga".

Wah... girang Aku melihat sikap dan mendengar alasan yang cuma segitu. Aku semakin berani dan mulai mengelus paha Mbak Rani.
"Eh... apa-apaan... jangan kurang ajar dong Ton!". Mbak Rani berdiri sambil memandang tajam. 'Sial!', dalam hati Aku meruntuk. Kok tergesa-gesa amat. Sejak itu Mbak Rani seperti berubah. Tapi sering kalau Aku sedang nongkrong dia mengintip di gorden.

Hingga pagi itu, kira-kira jam 10, suasana di depan kamarku senyap saja. Sampai terdengar pintu kontrakan depan terbuka. Aku mengintip. Wah... Aku langsung deg-degan ketika melihat Mbak Rani keluar dengan handuk terlilit membawa ember besar. Lalu seperti memandang ke kamarku, Mbak Rani menuju ke tempat jemur pakaian. Aku seperti spanneng melihat itu. Lalu kucari akal.

Aku segera melepas seluruh pakaian dan menuju ke kamar mandi lalu mengguyur tubuhku asal basah. Lalu kuambil handuk dan kulilitkan dipinggang serta kuambil ember kosong dan kuisi dengan beberapa pakaian yang sengaja kubasahi. Lalu Aku keluar menuju tempat jemuran juga.

Mbak Rani kaget ketika kutegur, "Njemur Mbak?".
"Iya... kok tumben njemur disini?", datar suara Mbak Rani. Dia sempat melirik ke handukku.
"Iya biar ketemu Mbak Rani, habis kangen sih...", jawabku sekenanya. Aku hanya melampirkan satu baju saja dan lalu menuju ke Mbak Rani yang sedang mebungkuk. Dari belakang Aku memeluk Mbak Rani sehingga Mbak Rani kaget. Mulutnya hampir berteriak tapi tidak bisa karena Aku segera membekapnya.

Mbak Rani meronta hingga handuknya jatuh dan karena gerakan menahan, handukku juga terlepas. Tubuhku dan tubuh Mbak Rani menempel. Mbak Rani terus meronta tapi Aku berhasil mengelus puting Mbak Rani yang menonjol. "Mbak... diam dong, nanti kalau ketahuan kita bisa sama-sama malu juga khan", kataku.

Mbak Rani mengambil nafas dan berhenti meronta, mungkin dia mulai tersadar akan kebenaran ucapanku atau mungkin juga karena dia merasa kemaluanku menggeser pantatnya sehingga menimbulkan sensasi. Dan Mbak Rani semakin diam saja ketika tangan kiriku yang tadinya membekap mulutnya kini pindah ke susunya serta tangan kananku menuju ke pangkal pahanya. Tampaknya Mbak Rani seperti pasrah ketika Aku terus memeluk dari belakang dan menggiringnya ke tembok rumah, mencari tempat yang lebih terlindung dan aku merasa banyaknya jemuran yang tergantung sangat membantu. Mbak Rani semakin pasrah ketika kugesek-gesek kemaluanku di sela kedua pahanya, seperti mencari jalan masuk ke kemaluannya yang kurasa sudah mulai basah. Bahkan tiba-tiba Mbak Rani seperti memberi jalan dengan menjengkitkan pantatnya sehingga Aku dengan mudah seperti menemukan jalan masuknya.

"Ton, nanti ketahuan tetangga...", desis Mbak Rani.
"Sebentar aja Mbak", kataku, sambil mengangkat kaki Mbak Rani sedikit dan... blesss...
"Auuuuuuh Ton...", Mbak Rani melenguh ketika kemaluanku memasuki tubuhnya dalam posisi berdiri itu. Aku mulai merasakan sebuah sensasi, bagaimana tetanggaku yang selama ini baik di depan suami dan anaknya sekarang sedang kusetubuhi. Aku mulai mengajaknya memainkan irama nafsu yang syahdu di pagi hari. Mbak Rani merintih-rintih, ketika kubalik tubuhnya sehingga Aku dapat memasukkan kemaluanku dari depan. Walau pun dalam posisi berdiri, Aku dapat merasakan lobang vaginanya yang sangat nikmat. Dengan posisi itu pun kupikir Mbak Rani bisa merasakan kemaluanku demikian mantap menggesek dinding kemaluannya. Aku memaju-mundurkan pantatku sedang Mbak Rani hanya pasrah, namun tiba-tiba dia mencengkeram bahuku dan Aku merasa lubang kemaluan Mbak Rani serasa lebih menjepit.
"Ooooh Ton... aduuuhhh... ukh... ukh...", Mbak Rani kulihat tidak bisa lagi menahan perasaannya dan dia segera mengkontraksikan lobang vaginanya, desahannya pun tampak nyaring dan seperti tak sadar lagi. Aku pun sampailah ke puncak nikmat. Kugendong tubuh Mbak Rani yang telanjang bulat dan kutancapkan kemaluanku dalam-dalam.

Hening sesaat. Dipandangnya mataku yang juga sedang menatapnya. Aku seperti kaget dengan kelakuanku yang barusan dan aku juga tak tahu apa yang ada dalam pikiran Mbak Rani. Perlahan Mbak Rani menurunkan kakinya dan kemaluanku pun tercabut. Mbak Rani seperti menahan malu mengambil handuknya, lalu melilitkan ke tubuhnya dan bergegas menuju kamarnya. Aku pun dengan nafas masih terengah-engah melilitkan handukku dan lalu menuju kamarku sendiri.

Sejak kejadian itu, Mbak Rani tampak jadi pendiam. Beberapa hari berlalu hingga suatu pagi kulihat Mbak Rani keluar, berdiri di depan pintu, mengantarkan kepergian suaminya untuk berangkat kerja. Sebelum dia sempat masuk lagi ke rumahnya, Aku segera menghampirinya.
"Mbak", panggilku. Kulihat Mbak Rani memandangku seperti marah. "Saya mau minta maaf soal kemarin". Mbak Rani berhenti sejenak.
"Kamu itu kurang ajar", katanya acuh.
"Soalnya sudah nggak tahan Mbak", kataku sambil mencoba meraih tangannya. Mbak Rani diam saja, sambil melihat ke sekeliling seolah takut ada yang melihat.
"Iya kamu itu kasar tahu", desis Mbak Rani. "Maaf, Mbak...", kataku sambil mencoba meremas pantatnya.
"Huss...", desis Mbak Rani sambil menepis. Aku berteriak girang dalam hati. Dia tidak marah. Dia hanya memandangku lalu melengos masuk ke rumahnya.

Beberapa saat kemudian kulihat dari dalam kamarku Mbak Rani keluar lagi sambil membawa ember. Kali ini dia memakai gaun panjang. Mbak Rani sepertinya terdiam sesaat ketika berdiri di depan kamarku. Dalam hati aku bertanya, mungkinkah ini sebuah undangan, atau justru dia berusaha menghindar supaya tak tampak olehku.

Aku terus berpikir, namun... terus terang yang kemaren itu nikmat sekali. Tanpa menunggu lebih lama, dan dengan hanya menggunakan celana pendek, aku berjalan mengendap di sela-sela jemuran. "Mbak...", kupanggil dia setelah posisiku agak dekat. Mbak Rani menoleh, dan... diluar dugaanku, Mbak Rani justru menghampiriku sambil tersenyum. Segera saja Aku menarik tangan Mbak Rani menuju segerombolan semak di pinggir sawah dan kebetulan kulihat ada selembar tikar usang disitu. Mbak Rani diam saja ketika Aku melepas gaunnya dan membiarkan tubuhnya telanjang bulat terpapar di depanku.

Mbak Rani seolah pasrah ketika pagi itu Aku menidurkan dirinya di alas tikar dan dengan mesra kujilati tubuhnya. Mbak Rani akhirnya kusenggamai berulang ulang di pinggir sawah itu, dan merupakan sensasi tersendiri ketika Aku menusuk kemaluannya dari belakang dengan posisi doggy style dan dengan langit sebagai atap. Erangan Mbak Rani seperti tertelan suara diesel. Mbak Rani semakin tergila-gila ketika Aku dengan posisi terlentang sedang dia dengan lembutnya mulai menelusupkan kemaluanku ke belahan kemaluannya. Ooooh... sungguh nikmat. Mbak Rani pun kelihatan sungguh menikmati persetubuhan ini. Tapi tiba-tiba... ada suara sepeda motor datang. "Oooh suamiku..", desis Mbak Rani terperanjat. Sambil melepaskan kemaluannya sehingga terdengar suara 'plops'.

"Ton, gimana nih, suamiku datang".
"Sssst... jangan keluar dulu. Masak kamu mau menemuinya dengan kondisi seperti ini?". Mbak Rani seperti tersadar, lalu diam. Tapi dengan nakalnya Aku kembali mengarahkan kemaluanku sehingga kembali menelusup ke kemaluan Mbak Rani yang masih duduk di atas tubuhku. Mbak Rani terdiam menahan geli, sambil mengintip suaminya sedang celingukkan mencari. Saat itu seperti ada sensasi lagi bagiku, yaitu bersetubuh dengan orang lain sambil memperhatikan suaminya.

Aku mulai lagi menikmati tubuhnya dan kulihat Mbak Rani pun seperti kembali menikmati permainan dengan sedikit-sedikit menggerakkan pantatnya. "Oooohhh...", desisnya sambil menurunkan bongkahan pantatnya.
"Mbak nakal ya... tega... ada suaminya kok ginian sama aku", bisikku.
"Biarin Ton... Mbak lagi terangsang sekali sekarang.", katanya. Lalu seperti nekat, Mbak Rani mencabut dan membalikkan badannya mengarah ke suaminya yang terpicing-picing melihat ke arah semak.
"Ton... tusuk aku dari belakang".

Aku tersenyum karena yakin biar pun sambil berdiri, aku tak akan kelihatan suaminya. Mbak Rani pun sepertinya menikmati hal itu ketika kemaluanku menyodok liangnya.
"Ton sodok yang keras Ton... oooohhhh... terus Ton", sambil perlahan-lahan Mbak Rani mencoba untuk berdiri.
"Ton... terus Ton... kita sambil berdiri Ton...", dan masih seperti nekat Mbak Rani berdiri dengan sedikit menungging dan Aku dengan mudah menyelusupkan kemaluanku yang panjang itu. "Ooohhhh...", desis Mbak Rani sambil memperhatikan suaminya yang terlihat berdiri seolah-olah memandangnya. Tapi karena keadaan semak yang rimbun, dari jauh tentu tidak terlihat apa-apa. Dan ketika Mbak Rani mencapai puncaknya, Aku mendesakkan kemaluanku sedalam-dalamnya ke lubang kemaluan Mbak Rani. "Adddduuuuuh Ton nikmat...", desis Mbak Rani.

Siang itu sepertinya Mbak Rani ingin terus bersenggama dan hendak melampiaskan nafsunya yang menggebu-gebu. Mbak Rani seperti sudah kehilangan nalarnya ketika mengajakku berjalan ke arah belakang kontrakannya yang tertutup rimbunan tanaman dan pagar sebatas dada, sehingga dari situ pandangan kita bebas ke jalan raya.
"Ton... Mbak mau main lagi disini Ton".
"Hah!!, ntar kelihatan orang!"
"Sudahlah... ayo Ton", katanya sambil membuka kakinya menghadap jalan. Sambil sesekali menunduk, Aku lalu menyelusupkan batangku yang tegak perkasa ke belahan pantat Mbak Rani dan ketika sudah tepat kusodok kemaluan Mbak Rani. Mbak Rani kembali tergial-gial dan semakin histeris ketika melihat suaminya mengendarai sepeda motor ke arah jalan raya. "Oooooh Ton lebih keras Ton... auuuuhhh...", dan seperti sengaja ketika orgasme yang kesekian kali, dengan beraninya disibakkan belukar di depannya seolah mau pamer ke orang-orang yang lalu lalang. Mbak Rani kulihat mengejan sekuatnya ketika kurasakan pula cairan nikmatnya menyembur, hampir bersamaan dengan semprotanku.

Ketika semuanya selesai, Mbak Rani kembali ke kamar kontrakannya dengan mengenakan gaun panjangnya, sementara aku bersembunyi dulu di tempat jemuran. Kudengar sayup-sayup Mbak Rani diberitahu tetangga sebelahnya, bahwa tadi suaminya mencarinya.

4 komentar: