Jumat, 18 April 2014

Sepupuku Paling Seksi Sedunia

Kenalkan namaku Ray. Cerita ini adalah pengalaman yang kualami saat duduk di bangku SMP, saat itu usiaku 13 tahun. Cerita ini kutulis karena tantangan para tokoh yang terlibat dalam cerita ini. Semua nama di cerita ini telah disamarkan.Sejak aku masuk SMP, mama ku mendapatkan promosi di kantornya, sehingga dia terpilih menjadi kepala cabang di salah satu bank swasta di Bandung. Sedangkan papaku menjalankan perusahaan nya yang bergerak dalam industri perabotan plastik rumah tangga. Pekerjaan yang ditekuni kedua orang tuaku memberikan dampak pada lingkungan sosialku. Gaya hidup kaum elit biasa kualami, gosip-gosip skandal seks pun sudah sering aku dengar dari aku masi kecil. Tapi saat itu aku belum mengerti hal-hal yang berbau seks.
Menjadi murid SMP tidaklah sulit, hanya saja kini kedua orang tuaku sudah jarang di rumah. Aku bersekolah di sekolah swasta di kota Bandung, sekolah itu dekat dengan rumahku kurang lebih 20 menit, hanya saja kalau pulang, lalu lintas ke arah rumah ku macet total. B*C dan *P adalah titik macetnya.
Setiap sampai di rumah aku berganti pakaian, lalu jalan ke *P untuk makan siang. Begitu lah hari-hari yang kulalui. Setelah berjalan beberapa bulan, gaya hidup yang tidak sehat ini telah memberikan hadiah kepadaku berupa sakit thypus. Tidak tanggung-tanggung 2 minggu lamanya aku terbaring di RS Borome*s.
Selama aku sakit, yang mengurus dan menjagaku adalah kakak papaku,sebut saja dia Tante Agnes. Si cantik berusia 51 ini mempunyai 3 anak perempuan, Janice 25 thn, Joanne 20thn, dan si bungsu Jessica 16 tahun. Keluarga kami adalah keterunan Manado – Belanda, sehingga kami dikaruniai fisik yang diatas standar (hehehe, gw emang ganteng). Ditambah suami Tante Agnes yang berkewarganegaraan Filipina menambahkan nilai eksotis pada ke tiga sepupuku.
Tidak lama setelah aku keluar rumah sakit, kedua orang tuaku beserta om dan tanteku bertemu untuk merundingkan tentang masalah kesehatan ku. Hasil dari pertemuan itu yaitu setiap pulang sekolah aku akan pulang ke rumah tante ku, baru nanti aku dijemput mamaku sepulang kerja. Hal ini aku setujui karena aku senang bermain bersama sepupu-sepupuku. Soalnya kalau di rumah aku sendirian, bermain PS2 ditemani pembantu merupakan hal yang membosankan bagiku.
Beberapa bulan aku numpang makan di rumah tanteku, merubah banyak aspek baik dalam kehidupanku maupun kehidupan mereka. Kamar tamu di rumah mereka, kini salah satunya disulap menjadi kamarku, bahkan terkadang aku menginap di rumah mereka. Mereka tinggal di daerah elit sekitar Univ. Maranath*. Mereka keluarga yang kaya tidak kalah kaya dengan kedua orang tuaku. Kolam renang di rumahnya sering aku pakai, karena itu merupakan saat-saat bahagiaku memandangi sepupuku berenang mengenakan pakaian renang seksi. Kejadian itu terus berulang sampe aku mulai mengenal masturbasi, setiap aku berenang bareng, lalu aku bermasturbasi di kamar mandi. Kebiasaan itu berlangsung cukup lama, sehingga mengakibatkan kejadian yang tak terduga namun membahagiakan.
Sore itu selesai berenang, aku mengeringkan badanku, lalu bergegas lari ke kamarku, menanggalkan pakaian renangku dan masuk ke kamar mandi. Kali ini aku ceroboh karena lupa mengunci pintu kamarku. Saat asyik bermasturbasi, tanpa sadar Jessica masuk dan tiduran di kamarku, lama kelamaan mungkin karena suara ku terlalu hot di kamar mandi, dia penasaran dan membuka pintu kamar mandi yang tidak aku kunci (kamar mandi dalam kamar tidur ya ngapain di kunci pikirku, kan pintu kamernya juga biasa dikunci).
Jreeeeeng aku lagi asik di bath tub sambil ngocok, tiba-tiba kaget denger suara “Lagi ngapain Ray itu titit disabunin terus-terusan? Enak ya?” Tanya Jessica kepadaku.
Jantung ku serasa jatuh ke ujung kaki. Sambil telanjang aku langsung berdiri dan memohon-mohon kepada Jessica supaya merahasiakan hal ini kepada kedua orang tuaku, juga kepada om tanteku.
“sudah-sudah, kamu mending cepet selesain mandi, baru ngomong lagi, itu tititnya kasian tuh kedinginan.” Sambil cekikikan dia berjalan ke kasurku.
Aku lalu melanjutkan mandiku sambil memikirkan beribu alasan yang akan aku katakan kepada kak Jessica. Selesai mandi, aku langsung rebahan di sebelah Jessica sambil memohon supaya dia mau jaga rahasia.
“wajar lah kamu kan cowok, kaka juga tau umur sekamu ya lagi tinggi-tingginya, lagian kakak juga suka ngobrol sama ka Jo (panggilan Joanne), ka Jen (panggilan Janice) kalo lagi renang kan kamu ngaceng liatin nenen kita-kita kan?”
Kaget rasanya denger kata-kata itu dari mulut ka Jes. “nggak kok ka...” jawabku yang tertunduk malu.
“ya udah kaka ga akan bilang ke sapa-sapa, tapi lain kali jangan lupa kunci pintu kamarnya ya.” Sambil tersenyum dia mengelus kepalaku.
Setelah kejadian itu, kedekatanku dengan ka Jess kian erat. Kini aku mulai sering curhat ke dia. Kadang-kadang kalau aku tidak dijemput orang tuaku, aku tidur bareng ka Jess. Hingga suatu malam ka Jess ngobrol denganku masalah pacar.
“ray, lu udah ada cw?”
“belum ka, temen gua jelek-jelek hahaha.” Jawabku dengan santai
“emang nya lu mau kaya apa cwnya? Lu kan muka cakep, tinggi aja uda se gua.” Sambil berdiri di samping ku.
“ya kelamaan tinggal sama cw-cw cantik ka, jadinya liat cw lain jelek semua” jawabku sambil bercanda.
“pantesan lu tiap hari ngocok mulu. Cari pacar sana biar ada penyaluran kan kasian itu tititnya ditipuin terus.” Sambil menunjuk kearah kemaluanku
“ah kaka edan ngomongnya, masa pacar buat penyaluran.”
“ya kamu yang edan, masa sepupu sendiri buat bahan ngocok” sambil ketawa-ketawa akhirnya kita rebahan di kasurnya.
“kaka sendiri napa putus sama david?” tanyaku.
“Abis dia maksa mau ml sama kaka terus, kalo oral sih ga masalah kaka sih, tapi kalo ml tar hamil gimana? Mending keluarganya beres, lah itu papa mamanya aja suka ngobat. Serem kaka sih lama-lama jalan sama dia, mending putus aja.”
Denger kata ml dan oral langsung membuat jantung ku berdetak kencang. “emangnya kaka pernah nyepongin david?” tanyaku penasaran
“ya pernah lah, namanya juga pacaran. Kamu sih makanya kerjaan di sekolah diem aja di kelas, main coba sama temen-temen, jangan belajar terus.”
“kalo ka david suka oral kaka juga?”
“heeh” ka jess mengangguk kepadaku. Tanpa disadari kemaluanku sudah berdiri tegak dibalik celana kolor (soalnya dari kecil ga pernah tidur pake celana dalam sob). “tuh uda ngaceng lg” sambil menunjuk ke celanaku.
Aku langsung meluk guling karena malu. Sambil ketawa ka jess duduk lalu memegang pinggangku. “sini-sini liat” aku masi menepis tangan ka jess yang mau merebut gulingku. Upaya dia tidak membuahkan hasil, sampai akhirnya dia menyerah. “uuuuuu dasar pelit, padahal kalo mau kasi liat tar boleh minta dikocokin sama kaka.”
Bagaikan disambar petir, aku merasa seperti seorang petinju yang di ko lawan. Jreg jreg nong! “hah yang bener ka, ih kaka kalo ngomong suka ngaco aja dasar.” Penasaran juga bener ga tadi ngomong gitu.
“ya udah kalo ga mau sih” dia mulai tiduran lagi
“ya mau kalo dikocokin sih” jawabku perlahan. Eh si ka jess langsung membalikkan badan sambil nyengir, lalu duduk.
“sok mana liat ray.” Aku lalu melepaskan gulingku. “ya dibuka celananya tolol, ngapain juga liat lu masi pake celana.”
“wah ga mau kalo lepas celana sih.” Jawabku mulai ga nyaman
“nah kan kamu tuh bego ya, mau ngocokinnya gimana kalo kamu pake celana?” mulai kesal ka jess
Iya juga ya pikirku. “dikit aja ya bukanya” aku kemudian menurunkan celanaku sedikit.
Tiba-tiba ka Jess langsung narik celana ku ke bawah sambil ketawa. “hahaha dasar bego, sapa juga yang mau kocokin kamu, lagian langsung lemes juga itu tititnya.”
Mendengar ejekan ka jess aku memakai kembali celanaku sambil berjalan keluar kamarnya, menuju kamarku. Tapi ka jess mengejarku di belakang, dia lalu mengikutiku masuk ke kamar.
“heh gitu aja marah sih, kan kaka cuma bercanda, sini katanya mau dikocokin.”
“ga usah ka, kaka kalo bercanda keterlaluan, mulai besok ray langsung pulang ke rumah aja, ga mau ke sini lagi.
“tuh kan, kaka kan cuma bercanda, sini-sini kaka kocokin.” Dia sambil mendekati tubuhku yang meringkuk memeluk guling. Lalu perlahan-lahan tangannya mulai memegang kemaluanku dari luar celana. “ayo duduk dong, katanya mau dikocokin”
Aku masih tiduran “ga usah palingan nanti ngejekin lagi.”
Tiba-tiba ka jess berdiri, berjalan ke arah pintu kamar, lalu menguncinya. Kemudian dia berjalan kembali ke wajahku. “iya maaf ray, sini kamunya duduk dulu.”
Bagai sapi dicocok hidungnya, aku menurut saja. Aku kemudian berdiri, melepaskan celana kolorku, lalu duduk disamping kasur, sedangkan ka jess berlutut persis didepanku sambilmelihat ke arah kemaluanku yang sudah lemas. Tangannya lalu mulai mengelus-elus pahaku, lalu mulai meraba-raba kemaluanku. Ga perlu waktu lama untuk melihat si kecil kembali berdiri tegak. Ka jess lalu mulai mengocok kemaluanku perlahan, tindakan dia kemudian mengejutkan ku saat mencium kepala kemaluanku.
“ka katanya kocokin aja... kok diciumin juga?” tanya ku sambil ketakutan bercampur tegang.
“ini bonus dari kaka, biar kamu mau maafin kaka.” Kemudian dia mulan menjilat-jilat ujung kemaluanku, sambil sesekali memasukkannya kemulut. Kocokannya mulai dipercepat, hisapannya pun mulai liar.
“kak... oh... enak pisan kak....” aku mulai meracau ga karuan, tapi ka jess tidak menjawab apa-apa.
Sambil terus menikmati hisapannya, lalu ka jess menoleh “nanti kalo mau bucat bilang ya.” Kemudian melanjutkan hisapan-hisapannya.
Sudah tidak tau berapa lama aku di oral ka jess, apakah 5 menit, atau 5 jam... tapi semua terasa nikmat. Saat sudah mendekati puncak orgasme, sambil terengah-engah aku bilang “ka... ka uda mau keluar... ka ntar awas kena mukanya...” mendengar kata-kataku, bukan berhenti tapi justru hisapannya menjadi semakin keras. Aku menahan spermaku sekuat tenaga supaya ga keluar kena muka ka jess, tapi rasa nikmatnya ga tertahankan. Akhirnya pun aku melepaskan sperma ku di mulutnya. “aduh ka sori ga tahaaan...” kataku sambil menyemburkan sperma ke mulutnya. Ka Jess Cuma tersenyum sambil menelan spermaku, dan membersihkan kemaluanku dengan lidahnya. Kemudian dia berdiri lalu menjatuhkan badannya ke kasur di sebelahku.
“enak ga ray?” tanya dia sambil nyengir
“enak ka.” Jawabku malu ga brani menatap matanya
“tar kalo kamu mau lagi bilang aja, tapi lain kali kamu kocokin kaka juga ya” jawabnya sambil senyum “udah yu tidur, sana pake celana dulu.”
Aku segera berdiri mengambil celanaku, lalu tiduran disebelahnya, tidak lupa mengucapkan terima kasih kepadanya yang dibalas dengan senyuman manisnya. Akhirnya kamu menutup hari kami dengan tidur berpelukan bersama sampai pagi.
Ka jen, ka jo, ka jes nih buktinya gw tulis ya, jangan lupa “bonus” nya

6 komentar: